PEMIRA, Seremoni Demokrasi Kampus
  • UTU News
  • 24. 12. 2019
  • 0
  • 3243

MEULABOH, UTU - Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) merupakan sebuah mekanisme demokrasi kampus yang diselenggarakan di berbagai perguruan tinggi, termasuk di Universitas Teuku Umar.

Senin, 23 Desember 2019, mahasiswa Universitas Teuku Umar menggelar pesta demokrasi kampus untuk memilih tampuk kepemimpinan mahasiswa di level Universitas. Sekilas tak ada yang baru dalam Pemira kali ini. Peserta merupakan para mahasiswa dari kalangan aktivis pergerakan, yaitu mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan baik ormawa internal kampus maupun ormawa eksternal kampus.

Meski sudah menjadi rutinitas, perayaan demokrasi di lokus kampus ini tak kehilangan daya tariknya. Semarak kemeriahannya sudah mulai terasa jauh hari. Di sudut-sudut kampus mulai terpampang poster yang berisi jargon dan visi misi peserta-peserta Pemira. Begitu juga lewat platform media sosial berupa facebook, IG, WA grup dan diskusi diwarung-warung kopi dilingkungan kampus dan seputar Kota Meulaboh. Semangat kompetisi juga semakin memanas menjelang pemungutan suara. Masing-masing kandidat mengklaim diri akan memenangkan pertarungan dengan merebut manyoritas suara mahasiswa.

Mujahidin, Ketua Komisi Pemilihan Raya (KPR) UTU menjelaskan bahwa pada Pemira 2019 hanya untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa, sementara untuk Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) telah terpilih melalui forum Kongres Mahasiswa Universitas Teuku Umar ke - IV yang berlangsung November 2019 lalu.

"Setelah melewati berbagai tahapan seleksi, KPR UTU menetapkan 3 pasangan calon yang berhak maju ke tahapan pemilihan yang berlangsung hari ini, Senin (23/12).

Lanjutnya, ketiga pasangan calon Presma/Wapresma UTU tersebut adalah Basriadi dari Fakultas Ekonomi (FE) berpasangan dengan Jufri dari Fakultas Pertanian (FP), selanjutnya pasangan Chandra B Gunawan dengan M Yusuf Mulyadi dari Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta pasangan ketiga Syafyuzal Helmi dari Fakultas Teknik (FT) berpasangan dengan Tarmizi dari Fakultas Ekonomi (FE).

Komisi Pemilihan Raya (KPR) UTU giat menyosialisasikan perhelatan akbar mahasiswa ini. Rangkaian agenda Pemira diawali dengan pendaftaran bakal calon yang berlangsung dari sejak akhir November, bahkan sempat diperpanjang masanya. Berikutnya seleksi berkas dan penetapan nomor urut pasangan calon. Kampanye dialogis dengan berbagai isu dan debat akbar “Membangun Sinergitas Mahasiswa Antar Lembaga, Menyatukan Suara demi Terciptanya Pemimpin yang Berintegritas" dengan para panelis (21/12).

Pada 23 Desember (Hari ini) mahasiswa dapat berpartisipasi memilih pemimpin yang akan memperjuangkan aspirasinya lewat Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) dengan memberikan suara di TPS. Pihak-pihak yang terpilih nanti diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan dan aspirasi seluruh mahasiswa. Isu keterwakilan ini yang sebenarnya menjadi wacana yang hangat dibicarakan elemen mahasiswa.

Jika Pemira tak ingin dicap sebagai suatu prosedur yang kontrarevolusioner terhadap perubahan UTU ke arah yang lebih baik, pelaksanaannya harus dikawal dengan ketat. Agar kepentingan mahasiswa secara umum terpenuhi, yaitu hadirnya pemimpin dikalangan mahasiswa (Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa) yang selama ini dianggap vakum. Masih banyak opini mahasiswa yang optimis terhadap Pemira yang mampu memberikan perubahan positif. Ada mahasiswa berpendapat bahwa Pemira tahun ini akan menghasilkan pemimpin yang sesuai dengan harapan manyoritas mahasiswa UTU.

“Harapan saya semoga melalui Pemira tahun ini orang-orang yang terpilih nantinya bisa mengakomodasi kepentingan mahasiswa secara signifikan. Selain itu semoga rekan-rekan mahasiswa nanti dapat lebih aware terhadap Pemira karena banyak yang masih tidak peduli dan dan bahkan tidak tahu gunanya,” kata salah satu mahasiswa Administrasi Negara FISIP UTU.

Terlepas dari berbagai opini dan kontroversi, Pemira masih menggairahkan untuk menghidupkan demokrasi di lingkungan kampus dengan memperkokoh peranan elemen mahasiswa. Demokratisasi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat membuka partisipasi dan keterwakilan seluruh mahasiswa UTU dalam setiap proses kebijakan yang akan diambil kampus.

Namun pada akhirnya, menggunakan hak pilih untuk memilih ataupun tidak adalah sebuah pilihan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan hak pilih mahasiswa dengan kesadaran penuh dan hati nurani. (Aduwina / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :