Pejabat Bappenas Beri Kuliah Umum 'Pengembangan Nasionalisme Multikultur' di UTU
  • UTU News
  • 13. 03. 2019
  • 0
  • 168

MEULABOH – Menggagas nasionalisme baru bisa dalam bentuk; penghargaan terhadap prestasi atau meritokrasi, alokasi ekonomi dan politik yang adil, persamaan di depan hukum dan penegakan hukum (law enforcement) secara adil, pengembangan sikap toleran terhadap berbagai etnik, agama, golongan dan sebagainya dalam kerangka pengembangan nasionalisme multikultur.

Penagasan tersebut disampaikan Kepala Subdirektorat Pendidikan Tinggi Bappenas, Tatang Muttaqin, Ph.D ketika memberi kuliah umum di depan dosen dan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU), 27 Februari 2019. Kuliah umum Tatang Muttaqin  bertema, ‘Membangun Nasionalisme Baru: Bingkai Ikatan Kebangsaan Indonesia Kontemporer’.

Tatang menjelaskan, melemahnya ikatan kebangsaan itu ditandai dengan melemahnya apresiasi dan kepercayaan (trust) antar kelompok etnik, agama dan golongan. Namun, data kualitatif ternyata penurunan kadar kebangsaan tersebut secara statistic tidaklah terlalu signifikan, karena kecenderungan dan indeks nasionalisme responden masih tergolong relatif tinggi.

Fenomena tersebut memberikan beberapa indikasi, Pertama; penurunan nasionalisme tersebut bisa jadi hanya bersifat temporer yang sangat bergantung pada kondisi yang ada. Kita bisa memahami, penurunan nasionalisme ini merupakan ekspresi ketidakpuasan dan kekecewaan umum terhadap sistem politik orde baru yang sangat sentralistik dan imperatif. Ketika rezim orde baru jatuh, masyarakat mengalami euforia politik yang berlebihan dengan mengekspresikan kebebasan dan kekecewaan terhadap pemerintah pusat secara sekaligus melalui ungkapan, sikap dan perilaku yang sering kali tidak santun, penuh kemarahan, dan bahkan pemberontakan. sikap tidak percaya (distrust) dan perasangka negative di kalangan masyarakat menggejala dimana-mana. tidak hanya bersifat vertical terhadap pemerintah, melainkan bersifat horizontal antar berbagai kelompok masyarakat.

Ada dua faktor utama yang saling berkombinasi menjadi sumber konflik, pertama; identitas (potent identity based factor) seperti ras, agama, dan etnik. Kedua; adalah persepsi terhadap distribusi sumber-sumber ekonomi, politik, dan sosial dalam masyarakat. Bila kedua faktor ini bercampur, maka potensi konflik menjadi sangat tinggi dan mengakar (deep-root conflict). Apabila konflik menyangkut identitas, baik etnik atau agama, dan memuncak dalam skala nasional maka secara langsung atau tidak akan berkait dengan nasionalisme dan kecenderungan disintegrasi bangsa pun menjadi semakin terbuka.

Globalisasi dalam bentuk ilmu pengetahuan, teknologi, gaya hidup dan budaya global sangat berpengaruh terhadap perubahan dan perkembangan nasionalisme. Iptek dan gaya hidup barat sangat cepat mempengaruhi pola pikir, sikap dan perilaku anak bangsa, terutama kaum muda. Iptek dan gaya hidup barat bisa menjadi salah satu faktor determinan dalam perkembangan budaya bangsa, yang sekaligus berpengaruh terhadap corak nasionalisme Indonesia, ujar Tatang yang juga anggota James Coleman Associations, the Netherlands. (Zakir)

Lainnya :